Cerita Pendek : Wanna be A Bad Guy
Mempertahankan imej diri sendiri itu layaknya memegang pedang bermata dua. Ada kalanya ingin terus digunakan untuk menyerang namun ada kalanya ingin hanya untuk menahan, namun jika pertahanan lemah maka mata kedua dari pedang kita sendiri yang akan melukai diri kita.
Aku Indra, umur 20 tahun, lulusan dari sebuah sekolah kejuruan di salah satu daerah di Kota B. Saat di SMK aku mengambil jurusan TKJ (Baca : Teknik Komputer, dan Jaringan). Di dalam kelas aku termasuk orang yang pintar dan diandalkan oleh teman-temanku. Seringkali aku dipercaya mereka untuk menjadi ketua pengurus dalam suatu kegiatan di sekolah. Mereka begitu mempercayaiku.
Aku senang dengan keadaanku sekarang ini, bahkan bangga. Semenjak kecil aku memang dididik untuk menjadi anak yang baik, santun, rajin, dan berprestasi. Kedua orang tuaku begitu menyayangiku, hampir setiap hariku terisi senyuman kebahagiaan. Hanya saja semua berubah dikala aku sudah jenuh dengan keadaan diriku yang seperti ini. Aneh kan?
Setiap orang berhak jenuh. Pada setiap sesuatu yang kita suka, kita pasti memiliki titik jenuh meski itu hanya sekejap. Sama halnya denganku, aku mulai jenuh dengan imej diriku yang "baik". Entah mengapa pikiran tidak penting ini berasal, aku-ingin-menjadi-bandel. Dibenci orang, dan dikucilkan orang. Aku merasa jika itu terjadi aku bisa bebas. Bebas dari segala tanggung jawab, bebas dari segala pujian yang kadang membuatku muak.
Sempat pada suatu hari aku mulai penasaran dengan yang namanya pacaran. Aku memang tidak cukup ganteng, maka dari itu disamping disibukkan dengan kegiatan-kegiatan aku juga jarang disukai cewek di sekitarku. Hingga suatu ketika, aku mendengar kabar bahwa ada salah seorang cewek dari kelas sebelah yang naksir padaku. Betapa senangnya hatiku, berbunga-bunga rasanya. Kala itu aku masih memiliki imej baikku, namun sekejap aku teringat akan visi gilaku. Menjadi anak bandel. Ah, ini kesempatan untukku menjadi pribadi yang lain. Menjadi anak yang nakal. Haha. Pikirku.
"Hy Gadis," begitulah aku memanggil cewek yang katanya naksir padaku. Namanya Gadis Dwi Kurnia. Anaknya cantik, hitam manis.
"Eh? Mas Indra, mm.. iya ada apa?" tanyanya malu-malu. Mukanya nampak tersipu saat kusapa tadi. Heh, dasar cewek, kalo sama cowok yang disuka pasti malu malu kucing. Padahal sendirinya pengin banget ngobrol atau melakukan hal menyenangkan bersama.
"Ng.. gini, besok kan ada acara festival band di lapangan depan sekolah. Ada niatan mau nonton gak?" tanyaku basa basi. Sebenarnya aku berniat untuk mengerjainya nanti setelah nonton acara tersebut. Niat busukku entah mengapa langsung segila itu.
"Eh..? Mm,.. belom sich. Soalnya seringnya gak boleh main malem-malem sama mamah" jawabnya lugu.
"Nanti aku yang ijinin dech," rayuku.
"Gimana ya? Bingung nich... Pengin si, cuman ya itu" kembali Gadis mencoba berkilah. Padahal aku tahu betul kalo dia pengin banget nonton, apalagi aku yang ngajakin. Pe-de-ku.
"Ya baiklah. Nanti aku coba ngerayu mamah dech biar bisa main" jawabnya.
Yak stright ibarat mancing. Lempar dapet, meski sedikit perjuangan ulur tarik dulu.
+++
Sore harinya,
Tadi siang aku tidak lupa untuk meminta nomer hp Gadis, jadi tidak bingung untuk menghubunginya. Aku coba telfon dia menanyakan apakah dia benar-benar bisa berangkat atau tidak. Gayaku yang lumayan necis, dengan kemeja kotak-kotak warna merah hitam dengan kancing terbuka dan kaos putih yang ku kenakan di balik kemeja menambah keren penampilanku (menurutku), tidak lupa celana jeans pencil yang memang masih trend pada masa kini.
Tuut, Tuut, Tuut
Panggilanku mulai terhubung, namun masih belum diangkat. Mungkin Gadis masih bersiap-siap atau sedang merayu kedua orang tuanya supaya bisa pergi keluar.
Tidak berapa lama dari kejauhan nampak seorang cewek berlari-lari kecil menuju ke arahku sembari sedikit melambaikan tangannya. Siapa itu? Gadiskah?
Yak, benar saja. Itu adalah Gadis. "Calon Korban"ku yang pertama. Dia nampak begitu cantik, dengan menggunakan kemeja warna merah juga (entah kebetulan atau apa), dan celana jeans ketat serta membawa tas ransel. Hn.. cantik sich, cuman kenapa malah kayak anak mau berangkat kuliah? Pake bawa ransel segala.
"Maaf ya telat" katanya meminta maaf dengan nafas terengah-engah karena habis lari tadi.
"Oh tidak apa-apa kok. Aku belum lama sampai juga ini. Aku telfon kok gak diangkat?" tanyaku.
"Ow itu, soalnya hp-nya di dalam tas. Gak denger kalo ada telfon, hehe" jawabnya sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Entah mengapa tiba-tiba aku terhentak, hatiku terasa sakit. Sesak rasanya. Haloo... Itu cuma senyum biasa. Aku udah sering lihat kok. Kenapa ini rasanya lain ya? Sesak sekali di dada ini. Perasaan apa ini? Pikiranku mulai tidak karuan. Perasaan aneh hinggap di diriku.
"Indra? Indra? Kamu kenapa?"Gadis terlihat bingung dengan sikapku yang tiba-tiba diam terpatung. Dia mencoba mengguncangkan tubuhku berharap aku menjawabnya.
Tidak berapa lama aku baru tersadar dari lamunan dan kebingunganku. "Eh? Apa?" tanyaku bingung.
"Kamu kenapa? Kok tadi diem aja? Marah?" tanyanya lagi.
"Oh, enggak kok. Cuma bingung aja" jawabku sekenanya.
"Bingung kenapa?" tanyanya lagi masih penasaran.
"Ah udahlah, gak usah dipikirin. Yuk jalan-jalan dulu sambil nunggu acaranya mulai.." ajakku.
Dia langsung menggandeng lenganku, seperti sudah sangat akrab. Bahkan kami belum punya hubungan istimewa apapun, tapi kenapa dia begitu mesra terhadapku? Aku mulai berfikir busuk lagi, mungkin memang kesempatan untukku menjadi diriku yang baru. Setan di kepalaku seperti tertawa melihat keadaan kami yang sedekat ini. Setan itu hendak membisikiku trik trik untuk bisa merayu Gadis supaya mau "melakukannya". Namun tiba-tiba aku tersadar saat Gadis berkata, "Aku suka banget sama kamu Ndra, pastinya kamu udah tahu kan? Makanya kamu ngajak aku nonton festival band ini?"
"Eh? I..i..ya begitulah, hehe" jawabku sambil cengar cengir. "Memang apa yang bikin kamu suka sama aku?" tanyaku basa basi.
"Jujur saja, kamu itu baik. Disegani sama temen-temen, sopan, pinter, dan kayaknya sholeh juga, hehe" jelasnya.
Aku kemudian tersadar, dan merasakan kehangatan di dalam benakku. Kesejukan di dalam pikiranku. Kenyamanan dalam langkahku. Benar. Perasaan dipuji ini, perasaan bangga ini. Sebenarnya cukup indah. Meskipun seringkali aku tidak merasa sehebat itu.
"Aku harap kamu tetap diri kamu yang baik itu sampai kapanpun yah, karna aku yakin itu adalah suatu yang akan menghasilkan kebahagiaan sejati nantinya buat kamu" katanya sedikit memberi nasihat terhadapku.
Bodoh! Aku ini akan mengerjaimu Gadis! Apa kamu gak sadar? Apa kamu gak merasa aneh terhadap aku yang tiba-tiba ngajak jalan cewek? Aku punya niat busuk terhadapmu. Aku ini..Aku...
Tik...
Butir air membasahi pipiku, aku menangis.
Menangis?
"Loh? Indra? Kamu kenapa? Kok nangis? Aku salah ngomong ya?" Gadis terlihat khawatir dan bingung. Dia merasa tidak enak sekali padaku. Dia merasa bersalah.
Aku mencoba untuk kembali seperti biasa. Mengangkat kepala dan kembali tegas berwibawa.
"Gak papa kok, aku cuma merasa senang aja kalo orang lain juga senang dengan adanya aku yang kayak gini" jawabku tersadar dari visi gila dan tidak penting yang pernah terlintas dalam pikiranku.
Kamipun melewati hari dengan gembira bersama. Kami jadian. Dan yah, berbahagia bersama hingga akhirnya kami harus putus setelah upacara kelulusan, Gadis harus pindah ke Jakarta. Akupun sudah tidak ingin membebani perasaannya karna menjalani hubungan jarak jauh, jadi diputuskan untuk diakhiri. Namun kami tetap menjalin komunikasi. Gadis adalah cewek yang bisa membuat aku merasa berarti. Entah mengapa, padahal semua pujian pada dasarnya sama. Tapi kalo itu Gadis yang bilang sudah lain lagi ceritanya. Lebih terasa indah.
Jika saja visi bodoh itu ku realisasikan saat itu mungkin kini aku menjadi pribadi yang semakin tidak jelas dan tidak memiliki tujuan hidup yang jelas pula. Aku hendak menjadi penulis dan menjadi sukses. Itu cita-citaku kini.
Sebuah pujian memang terkadang membuat kita lengah dan sombong, tapi karna pujian pulalah kita bisa tetap bertahan menjadi yang terbaik.
Create Your Own Story, Create Your Own Imagination...!
Komentar
Posting Komentar