PUISI : Kesombongan dibalik Umpatan
hamparan pasir putih di pantai kuta
meski ku ungkap dengan buta
karna sekalipun kaki ini
belum pernah menapakinya
renta isak tangis
renta jerit pilu
dari sang pujangga
yang jatuh dalam kesedihannya
merobek keheningan
dengan lolongan pengumpatan
dimana keadilan ?
aku jatuh lagi ?
kapan aku akan berdiri tinggi ?
menatap rendah ke bawah ?
hanya lolongan kesombongan yang dimuntahkannya
dan tak pernah disadarinya sekalipun
mulailah dia mengambil pena
menyuratkan kata kata
penuh derita
penuh rontaan
dan hanya dia yang kan merasa
ketidak adilan yang dia tuntut
Tuhan sejujurnya Maha Adil
semua dia beri sesuai takaran-Nya
dan Dia yang Maha Adil
memberi nilai pada suatu usaha manusia
meski ku ungkap dengan buta
karna sekalipun kaki ini
belum pernah menapakinya
renta isak tangis
renta jerit pilu
dari sang pujangga
yang jatuh dalam kesedihannya
merobek keheningan
dengan lolongan pengumpatan
dimana keadilan ?
aku jatuh lagi ?
kapan aku akan berdiri tinggi ?
menatap rendah ke bawah ?
hanya lolongan kesombongan yang dimuntahkannya
dan tak pernah disadarinya sekalipun
mulailah dia mengambil pena
menyuratkan kata kata
penuh derita
penuh rontaan
dan hanya dia yang kan merasa
ketidak adilan yang dia tuntut
Tuhan sejujurnya Maha Adil
semua dia beri sesuai takaran-Nya
dan Dia yang Maha Adil
memberi nilai pada suatu usaha manusia
Komentar
Posting Komentar